Prioritaskan Mana yang Lebih Dulu Penting, Inilah Kisah Perjuangan Salah Seorang Dosen!

 



Penulis: Safira Astri Barliantin (B71218081)

Di kamar yang sunyi dan sepi saya berbincang lewat panggilan video call melalui aplikasi whattsapp dengan teman – teman saya dan seorang dosen yang bernama Mochtar Masod atau biasa disapa Mochtar, ia adalah seorang dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), di Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).

Mochtar mengajar sebagai dosen sejak tahun 2018, ia sempat mengenyam pendidikan di UINSA di Prodi PMI pada tahun 2011 – 2015, ia juga lulusan S2 dari Universitas Airlangga (Unair) jurusan Publik pada tahun 2016 – 2018. Mochtar dan orang tuanya tinggal dan menetap lama di Sidoarjo. Mochtar hidup sebagai anak dari orang tua pedagang soto, namun meski begitu orang tuanya berhasil menyekolahkan mochtar sampai lulus S2 tanpa beasiswa.

Mochtar yang awalnya ingin menjadi seorang dokter hewan harus merelakan impiannya, karena orang tuanya sangat ingin anaknya menjadi seorang pengajar. Mochtar yang tidak bisa masuk jurusan yang ia inginkan mengikuti jalan yang Allah berikan kepadanya, ia pun masuk PMI lewat jalur UMPTKIN karena ia sangat menginginkan menjadi mahasiswa setelah ia lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sewaktu masih menjadi mahasiswa S1 ia sangat aktif menjadi pengurus masjid, TPQ dan kegiatan di luar kampus. Meski begitu Mochtar tidak lupa dalam semua urusan di kampusnya, karena ia memiliki keinginan kuat untuk fokus pada studinya demi menata masa depannya agar menjadi lebih baik.

“Fokus pada studi mba, jangan mencoba untuk bermain - main dengan hal yang tidak penting, harus fokus dengan masa depan dan menata masa depan agar hidup menjadi lebih baik. Sebaiknya semua diselesaikan satu - satu dan fokus pada hal yang lebih prioritas terlebih dahulu,” Ujar mochar sewaktu bercerita lewat video call.

Mochtar sangat suka melatih dirinya agar ia bisa membrandingnya dirinya menjadi Mochtar yang lebih baik kedepannya. Saat di di kampus ia suka mengikuti segala jenis organisasi untuk melantih skillnya, karena menurutnya kuliah itu hanya memberikan 20% ilmu sisanya harus dicari sendiri.

“Semua itu harus dilatih mbak karena, kuliah itu hanya memberikan 20% ilmu sisa 80% nya harus di cari sendiri. Kita juga harus belajar gimana caranya membranding diri sendiri,” Katanya dengan sangat antusias.

Mochar juga pernah mengalami masa terpuruk saat ia ditinggal oleh ibunya, saat ia sedang menjalani kuliah S2 nya di Unair, tapi semua itu tidak membuat dia tenggelam dalam kesedihannya yang berlarut - larut, karena menurutnya hidup terus berjalan. Mochar pun tidak mau kesedihannya menjadi penghambat untuk masa depannya, karena ia masih memiliki ayah yang harus ia buat bangga.

“Saya pernah galau mbak waktu sedang studi S2 di Unair Karena ibu saya meninggal, disitu masa masa tersulit saya karena ditinggal ibu. Sempat bimbang juga mau nerusin studi atau tidak, tapi saya sangat bersyukur karena mendapat support dari keluarga yaitu bapak dan mbak, hingga akhirnya saya bisa lulus tepat waktu,” Pungkasnya saat ditanya.

Mochtar juga memiliki pengalaman menjadi pengganti dosen saat ia masih duduk di bangku kuliah. Sewaktu lulus S2 ia langsung ditawari menjadi dosen di UINSA, karena ia mempunyai banyak relasi dan kawan.

“Sewaktu 2018 saya pernah menjadi dosen pengganti, karena saya memiliki asosiasi PMI, jadi saya memiliki banyak relasi mba. Makanya saat saya lulus S2 di Unair saya langsung di tawari menjadi dosen di UINSA,” Jelasnya saat menceritakan kepada kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini